Buku 100 Perempuan Pendekar Bangsa


Judul Buku :
100 Perempuan Pendekar Bangsa. Penyunting :
Bambang Sadono, Lintang Ratri Rahmiaji. Penerbit :
PT Citra Almamater Baru / 2026. ISBN 978-634-96541-4-2


Menyimak buku dengan 768 lembar halaman jenis kertas premium paper book yang elegan, butuh ketelatenan ekstra, sekaligus mengasikkan. Namun itu tidak akan menjadi persoalan bagi pembaca yang sudah familiar dengan buku-buku karya Bambang Sadono sebagai (penyunting) sebelumnya, misal “Sihir Patah Hati Lord Didi” atau buku-buku personal lain seperti momentum 60 Tahun Bambang Sadono yang nota bene adalah kumpulan artikel dari banyak penulis.

Untuk urusan kerja kolaborasi semacam ini, mengakomodasi para punggawa penulis, Bambang Sadono (BS) belum bisa dilawan. Buku ini didukung 16 penulis yang piawai di urusan literasi. Seperti diakui Bambang Sadono dan Lintang Ratri Rahmiaji pada Pengantar Penyunting: “Penyusunan buku ini melibatkan kerja kolaboratif para penulis dan pewawancara.

Mereka menghimpun cerita pengalaman dan pandangan serta rekam jejak para tokoh lalu menyusunnya kembali dalam bentuk narasi, dst..(hal. IX – XIV). Sebagaimana buku BS yang lain, buku “100 Perempuan Pendekar Bangsa”, penerbit PT. Citra Almamater Baru yang diluncurkan September 2026 dikerjakan dengan semangat kolaborasi yang rapi, menarik (eye catching) dengan ragam foto warna warni yang akan tetap membuat nyaman pembaca.

Terlebih jika tokoh yang ditampilkan pada buku ini good looking. Menyimak buku dengan tingkat ketebalan ekstra seperi ini perlu kiat tersendiri. Artinya, sangat mustahil orang akan melahap habis dari awal hingga akhir.
Kiat itu adalah, seperti saat kita membaca buku kamus atau ensiklopedi, yakni mencari entri paling menarik. Keuntungan dari buku ini, nama tokoh disusun secara alfabetik sehingga sungguh nyaman diikuti.

Pengantar Editor

Adalah wajib hukumnya untuk menyimak lebih dulu Pengantar editor/penulis agar pembaca paham arah buku yang saya lebih cocok menyebutnya ensiklopedi. Lalu simak indeks, untuk mencari tokoh siapa yang menarik. Biasanya pembaca mencari tokoh yang sudah dikenal sebelumnya. Memiliki kedekatan emosi, daerah sal tokoh, bidang kerja, viralitas, dan terakhir tidak kurang penting tokoh itu menarik secara lahirah.

Beberapa figur popular ditampilkan. Puan Maharani, Rosiana Silalahi, Sherly Tjoanda, atau Veronica Tan.
Jujur cukup sulit menemukan celah kekurangan isi buku ini. Upaya merawat jaringan kolega adalah kekuatan dan bakat BS. Menilik latar belakang penyunting (BS adalah mantan anggota DPR-RI), maka pada buku ini terlalu banyak tokoh perempuan legislator (31 tokoh), pejabat pemerintah: bupati/wakil (20 tokoh), tokoh media (1 orang) dan selebihnya tokoh sektor swasta perusahaan (multi nasional) dan akademisi.

Maka nanti harus siap dengan pertanyaan pembaca, di mana tokoh dari sektor informal? Bisa disebut mereka juga para pengabdi bangsa dari sektor riil yang keberadaan perlu diberi ruang. Siapa mereka? Budayawan, seniman, pelaku seni tradisi atau bahkan kalau perlu aktivis lingkungan? Pada buku ini banyak narasi formal ditampilkan, sehingga membuat buku terkesan resmi.

Sisi humanistik ihwal anekdot kehidupan dalam berkeluarga, dengan dialog-dialog ringan keseharian nyaris tak disentuh. Mestinya sebagai miniatur biografi, sentuhan humanis sangat dibutuhkan sebagai gimik. Walhasil, buku ini menarik untuk dikoleksi semua kalangan, setidaknya untuk khasanah perempuan perkasa yang bisa dibilang lebih dari sekadar emansipasi. Karena mereka adalah para pendekar tanpa pedang. Jadi untuk membangun bangsa yang besarvsangat butuh sentuhan seorang ibu.


Bambang Iss Wirya