Mukhlis Rudi Prihatno : Hanya Jalur Tes Tanpa Manipulasi

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman (FK Unsoed) Dr. dr. M. Mukhlis Rudi Prihatno, M.Kes., M.Si.Med., Sp.An-KNA menyebut fakultas yang dipimpinnya berada dalam pertumbuhan yang relatif cepat. Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah program studi meningkat lebih dari dua kali lipat, dari semula 5 menjadi 13 prodi.

Menurut Mukhlis, perkembangan paling terasa terlihat pada sarana dan prasarana. Kemajuan tersebut berlangsung seiring dengan perubahan status Unsoed menjadi perguruan tinggi negeri berbadan hukum (PTN-BH). Peningkatan fasilitas dinilai penting untuk mendukung kegiatan pendidikan. Sekaligus memperkuat kapasitas fakultas dalam menjalankan berbagai program akademik dan pengembangan institusi.Namun, pertumbuhan fisik tersebut belum sepenuhnya diikuti kesiapan sumber daya manusia (SDM).

Karena itu, penguatan jumlah dan kualitas tenaga akademik menjadi salah satu pekerjaan yang perlu mendapat perhatian dalam pengembangan FK Unsoed ke depan. Terutama untuk mendukung peningkatan produktivitas penelitian dan menghasilkan riset yang mampu bersaing di tingkat internasional. Program pengembangan fakultas diarahkan pada dua agenda yang berjalan beriringan, yakni penguatan sarana pembelajaran dan SDM.

Keduanya menjadi bagian dari kontribusi perguruan tinggi dalam memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan nasional. Sekaligus mendukung arah pembangunan pemerintah yang selaras dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.

“Yang perlu diperkuat ke depan adalah penambahan SDM untuk menghasilkan riset-riset yang mampu bersaing di kelas dunia,” tegasnya.

Seleksi Mandiri

Sorotan terhadap Unsoed belakangan muncul menyusul kasus dugaan pemerasan dalam penerimaan mahasiswa baru melalui jalur mandiri. Mukhlis menilai persoalan tersebut perlu dilihat dalam konteks mekanisme seleksi yang diterapkan secara luas di perguruan tinggi negeri.

Menurutnya, pola dan landasan hukum penerimaan mahasiswa memiliki kerangka yang relatif serupa. Mukhlis memandang kejadian yang mencuat di Unsoed bukan semata persoalan yang berdiri sendiri. Mekanisme serupa, menurutnya, dapat berlangsung di perguruan tinggi lain karena berada dalam payung regulasi kementerian.

Unsoed menjadi salah satu kampus yang kasusnya mendapat perhatian luas, sementara perkara serupa sebelumnya juga pernah muncul di Universitas Lampung. Dari persoalan tersebut, evaluasi yang perlu dilakukan ada pada tingkat pembuat kebijakan.

Dengan demikian, sistem seleksi dapat memiliki mekanisme yang lebih sederhana, transparan, dan meminimalkan ruang terjadinya penyimpangan. Mengenai keterlibatan fakultas, ia menjelaskan bahwa FK Unsoed tidak memiliki kewenangan dalam pengelolaan jalur mandiri. Kewenangan tersebut berada pada Rektor dengan dukungan Wakil Rektor Bidang Akademik Unsoed. Karena itu, persoalan desain dan pelaksanaan seleksi mandiri berada pada ranah kewenangan universitas, bukan fakultas.


“Kalau bisa hanya satu jalur, yaitu tes, karena jalur prestasi pun memiliki celah untuk manipulasi.”


Reformasi Penerimaan

Mukhlis menilai mekanisme penerimaan mahasiswa baru, khususnya untuk prodi kedokteran, perlu mendapatkan perhatian lebih serius. Ia mengusulkan penyederhanaan jalur seleksi agar proses penerimaan memiliki standar yang lebih jelas dan mudah diawasi. Menurutnya, sistem yang sederhana dapat membantu mengurangi celah penyimpangan dalam proses penerimaan mahasiswa. Ia secara khusus mengusulkan agar jalur tes menjadi mekanisme utama dalam seleksi mahasiswa baru.

Gagasan tersebut didasarkan pada pertimbangan bahwa proses berbasis tes dapat menggunakan parameter yang lebih terukur. Sementara itu, jalur prestasi tetap dinilai memiliki kemungkinan menghadirkan celah manipulasi apabila mekanisme verifikasi dan pengawasannya tidak dirancang secara ketat.

Usman Wafa/SSA


Dr. dr. M. Mukhlis Rudi Prihatno, M.Kes., M.Si.Med., Sp.An-KNA meraih gelar dokter dari Universitas Islam Sultan Agung (Unissula), Magister Ilmu Biomedik sekaligus Pendidikan Spesialis Anestesiologi di Universitas Diponegoro (Undip), serta Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat di Universitas Gadjah Mada (UGM). Menyelesaikan doktor Ilmu Kedokteran dan Pendidikan Konsultan Anestesi Bedah Saraf di Universitas Padjadjaran (Unpad). Berkarier sebagai dosen dan peneliti di bidang anestesiologi, saat ini menjabat Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman (FK Unsoed).