Wahyurudhanto : Belajar Jurnalistik Di Koran Kampus


Prof. Dr. Albertus Wahyurudhanto, M.Si. Kepala Pusat Studi Pemolisian Masyarakat
Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian

Kepala Pusat Studi Pemolisian Masyarakat Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK), Prof. Dr. Albertus Wahyurudhanto, M.Si. lahir dan tumbuh di Semarang. Pilihannya menempuh pendidikan di Universitas Diponegoro (Undip) tidak semata karena faktor kedekatan, melainkan juga karena prestise akademik dan sosial.

Minat pada Ilmu Komunikasi telah tumbuh sejak masa sekolah menengah pertama, ketika ia aktif menulis majalah sekolah maupun majalah dinding.Semasa SMA di Kolese Loyola, ia bahkan sempat menjabat Pemimpin Redaksi majalah sekolah Gema Loyola. Ketertarikannya pada jurnalistik semakin kuat setelah beberapa tulisannya, dimuat di edisi Minggu Harian Suara Merdeka yang saat itu bernama Minggu Ini, serta di sejumlah mingguan lokal Semarang.

Semasa kuliah, ia aktif di koran kampus Manunggal dan organisasi mahasiswa. Ia kemudian dipercaya menjadi Ketua Senat Mahasiswa FISIP Undip periode 1987–1988. Pengalaman tersebut memberinya ruang belajar menulis, berdiskusi, memimpin, berorganisasi, dan membangun networking.

Pengalaman paling berkesan selama menempuh pendidikan di Undip adalah ia bisa menjalani tiga dunia sekaligus, yaitu kuliah, bekerja sebagai wartawan, dan menjadi aktivis  mahasiswa. Ketika kembali ke Undip untuk menempuh Magister Administrasi Publik, tesisnya tentang sikap media dan akuntabilitas publik membawanya lebih dalam pada persoalan transparansi, pemerintahan, kebebasan pers, dan partisipasi masyarakat.

“Undip mengajarkan cara berpikir, cara melihat kenyataan, dan cara bekerja,” katanya.

Karakter Membumi Kekuatan utama Undip terletak pada kemampuannya memadukan tradisi akademik dengan kedekatan pada persoalan nyata masyarakat. Jawa Tengah merupakan laboratorium yang kaya, mulai dari persoalan pesisir, pertanian, industri, kemiskinan, kesehatan, lingkungan, tata kelola pemerintahan, hingga kebencanaan. Karakter membumi tersebut perlu dipertahankan seiring Undip bergerak menuju universitas berkelas dunia. Ranking, publikasi, dan sitasi dianggap penting, tetapi bukan tujuan akhir. 

Penguatan riset multidisipliner, kolaborasi internasional, mobilitas akademik, penguasaan bahasa asing, pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), dan hilirisasi penelitian disebut sebagai area yang perlu terus dikembangkan.

Ia berpesan agar mahasiswa tidak hanya mempersiapkan diri untuk mendapatkan pekerjaan, tetapi juga mampu menciptakan nilai dan menyelesaikan masalah. Kemampuan berpikir kritis, komunikasi, penguasaan teknologi dan data, kerja tim, serta jejaring semakin penting.

“Harus tetap disertai integritas karena AI tidak dapat menggantikan tanggung jawab manusia untuk menentukan apa yang benar, pantas, dan adil,” katanya.

Masukan Strategis

Sebagai masukan strategis, Wahyurudhanto berharap Undip semakin tegas memosisikan diri sebagai problem-solving university. Keunggulan universitas, menurutnya, tidak cukup hanya diukur dari jumlah publikasi, sitasi, atau ranking, tetapi juga dari seberapa jauh pengetahuan yang dihasilkan mampu menjawab dan menyelesaikan persoalan masyarakat.

Setiap penelitian perlu memiliki pertanyaan lanjutan mengenai dampak dari hasil yang dihasilkan. Apakah terjadi perubahan setelah penelitian dilakukan, siapa yang memperoleh manfaat, kebijakan apa yang menjadi lebih baik, dan apakah hasil penelitian dapat diterapkan menjadi teknologi atau solusi yang digunakan masyarakat.

Jawa Tengah, bahkan Indonesia, diharapkan dapat menjadi living laboratory bagi Undip. Pemerintah daerah, industri, masyarakat, alumni, dan berbagai fakultas dapat bekerja bersama untuk menyelesaikan persoalan riil.

Pesan juga disampaikan kepada dosen dan akademisi untuk menjaga kebebasan akademik, integritas ilmu pengetahuan, dan keberanian menyampaikan kebenaran. Kepada mahasiswa, ia berpesan agar masa kuliah dimanfaatkan untuk membangun karakter, keberanian berpikir, kemampuan berorganisasi, dan jejaring. eka bekerja dan mengabdi.

“Semoga Undip semakin unggul dalam ilmu pengetahuan, semakin bermartabat dalam sikap, semakin luas jejaringnya di dunia, dan semakin besar manfaatnya bagi masyarakat, bangsa, dan negara,” katanya.


Fitri Mahadewi/SSA



Prof. Dr. Albertus Wahyurudhanto, M.Si. Lahir di Semarang, 7 April 1964. Menyelesaikan S1 Ilmu Komunikasi dan S2 Administrasi Publik di Universitas Diponegoro (Undip), serta S3 Ilmu Pemerintahan di Universitas Padjadjaran (Unpad). Mengawali karier sebagai wartawan Harian Suara Merdeka Semarang, kemudian menjadi dosen tetap di Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) sejak 2003. Pernah menjabat Komisioner Kompolnas 2020–2024. Pada 1 Juni 2023, ditetapkan sebagai Guru Besar bidang Ilmu Pemerintahan. Saat ini sebagai Kepala Pusat Studi Pemolisian Masyarakat di bawah Pusat Penelitian dan Pengkajian Ilmu dan Teknologi Kepolisian (PPITK).