
Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (FK Undip), Prof. Dr. dr. Yan Wisnu Prajoko, M.Kes., Sp.B., Subsp.Onk(K), resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam Bidang Ilmu Bedah Onkologi pada Sidang Terbuka Senat Akademik Universitas Diponegoro, yang digelar di Gedung Prof. Sudarto, Kampus Undip Tembalang, Senin (26/1/2026).
Sebagai Guru Besar Bedah Onkologi, Prof. Yan Wisnu memberi perhatian khusus pada isu kanker payudara usia muda di Indonesia. Kanker payudara pada perempuan usia muda memiliki dimensi yang kompleks. Pada kelompok usia ini, penyakit tersebut dapat memiliki karakteristik biologis yang lebih agresif dan menimbulkan persoalan yang melampaui pengobatan tumor.
Persoalan kanker payudara usia muda juga menyangkut fertilitas, citra tubuh, seksualitas, kesehatan psikologis, produkti-vitas, kehidupan keluarga, serta kualitas hidup jangka panjang. Ia juga menyoroti kebutuhan akan lebih banyak data yang berasal dari populasi Indonesia, mengingat karakteristik biologis dan genetik populasi Indonesia tidak selalu dapat diasumsikan identik dengan populasi Barat.
Yan mendorong pendekatan onkologi presisi yang relevan dengan karakteristik populasi Indonesia. Pendekatan tersebut mencakup pe-ngembangan profil genetik, deteksi dini yang lebih baik, serta tata laksana multidisiplin yang tetap memperhatikan kualitas hidup pasien.
Ilmu Bermanfaat
Prof. Yan menempuh pendidikan sarjana, profesi dokter, hingga spesialis di Undip. Kenangan yang paling berkesan selama menjadi mahasiswa adalah proses pembentukan diri sebagai hal yang paling membekas. Pendidikan kedokteran mengajarkan bahwa menjadi dokter tidak hanya soal menguasai ilmu dan keterampilan klinis. Ia mengaku belajar dari dosen, senior, dan teman sejawat, tetapi terutama dari pasien.
Yan mengalami perjalanan FK Undip sejak fasilitas dan teknologinya belum seperti sekarang. Pengalaman itu memberinya perspektif yang cukup lengkap setelah kini mendapat amanah sebagai dekan. Ia pernah menjadi mahasiswa, peserta pendidikan spesialis, dosen, klinisi, dan peneliti sebelum akhirnya turut bertanggung jawab menentukan arah fakultas.
“Kanker payudara usia muda bukan hanya masalah seorang pasien. Pada skala yang lebih besar, ini juga merupakan persoalan keluarga, produktivitas, dan kualitas sumber daya manusia Indonesia.”
Pendidikan di Undip sangat besar pengaruhnya dalam membentuk caranya memandang profesi dokter dan dunia akademik. Dari Undip ia belajar bahwa ilmu harus memiliki manfaat. Seorang dokter tidak cukup hanya memiliki kompetensi klinis yang baik, tetapi juga integritas, empati, kemampuan belajar sepanjang hayat, dan kesadaran bahwa ilmu kedokteran terus berubah.
Yan memahami bahwa akademisi memiliki tanggung jawab tambahan, yakni tidak hanya menggunakan ilmu pengetahuan, tetapi juga menghasilkannya. Prinsip itu kini ingin ia tularkan kepada generasi muda FK Undip. Ia mendorong agar tidak hanya menjadi konsumen pengetahuan, tetapi berani menjadi produsen pengetahuan dan inovasi.
Sebagai alumni sekaligus dekan, ia melihat Undip berkembang sangat cepat dan semakin percaya diri memasuki kompetisi global. Ia menilai ada kekuatan yang perlu dijaga seiring meningkatnya internasionalisasi, yaitu kedekatan dengan persoalan nyata masyarakat.
“Undip tumbuh dari Jawa Tengah, tetapi tidak boleh hanya berpikir untuk Jawa Tengah. Kita harus mampu mengambil persoalan lokal dan nasional, menelitinya dengan standar internasional, kemudian menghasilkan solusi yang relevan secara global,” tuturnya.
Kolaborasi Produktif
Ke depan, Prof. Yan berharap Undip semakin berani berinvestasi pada manusia, riset, dan jejaring global. Ia menyampaikan tiga hal, yakni memberi ruang lebih besar bagi dosen dan peneliti muda untuk berkembang melalui pendampingan, fasilitas penelitian, akses pendanaan, dan kesempatan berkolaborasi secara internasional. Kedua, memperkuat infrastruktur penelitian serta ekosistem riset klinis dan translasional.
Ketiga, internasionalisasi perlu diarahkan pada kolaborasi yang produktif, seperti riset dan publikasi bersama, profesor tamu, mobilitas mahasiswa dan staf, studi multisenter, hibah internasional, serta jejaring akademik global. Di samping itu, ia menekankan pentingnya Undip mempertahankan karakter sebagai institusi yang memberi manfaat bagi masyarakat.
Ia berharap FK Undip dan Universitas Diponegoro menjadi salah satu nama yang diperhitungkan ketika dunia berbicara tentang pendidikan kedokteran, riset kesehatan, dan inovasi medis dari Indonesia.
“Kita tidak ingin menjadi universitas berkelas dunia hanya karena sebuah peringkat. Kita ingin diakui karena ilmu yang kita hasilkan, inovasi yang kita ciptakan, lulusan yang kita didik, dan pasien yang kita layani,” tandasnya.
Usman Wafa