Tolak Angin dan Kuku Bima Andalan Jamu Sido Muncul

Direktur Pemasaran PT Sido Muncul Maria Reviani Hidayat menyadari bahwa di tengah persaingan industri yang semakin ketat, perusahaan harus menjaga konsistensi mutu dan memiliki keberanian untuk beradaptasi. Kepercayaan masyarakat terhadap merek-merek legendaris seperti Tolak Angin, Kuku Bima, dan Jamu Sido Muncul dipandang sebagai aset utama yang harus dijaga.

Menurutnya, kepercayaan konsumen merupakan aset yang sangat berharga bagi Sido Muncul. Kepercayaan itu tidak terbentuk dalam semalam, melainkan melalui konsistensi produk dan komunikasi selama bertahun-tahun.

Perusahaan juga berusaha untuk terus berpartisipasi dalam melestarikan jamu dan me-ningkatkan pemahaman masyarakat tentang jamu, antara lain dengan meluncurkan Sido Herbalpedia.

Maria memahami bahwa keberhasilan pemasaran bukan hanya diukur dari kecepatan pertumbuhan, tetapi juga dari seberapa kuat keberlangsungan produk-produk yang dipasarkan. Ia juga menyadari bahwa mempertahankan kekuatan merek lama memiliki tantangan tersendiri yang tidak kalah rumit dibandingkan dengan membangun merek baru.

Merek yang sudah dikenal luas harus tetap relevan dengan generasi muda yang memiliki gaya hidup dan tantangan berbeda, tanpa menghilangkan DNA asli produk. Selain produk-produk andalannya, Sido Muncul aktif merilis varian baru seperti Esemag, C-Collagen, Alangsari, Tolak Linu, hingga suplemen Sido Muncul Natural. Khusus pada 2026 ini, perusahaan tercatat meluncurkan 27 produk baru di kategori minuman kesehatan, ready to drink (RTD), herbal, hingga topical aromatherapy.

Ekspansi dan Inovasi

Ekspansi ke pasar internasional juga menjadi fokus jangka panjang yang digarap dengan cermat. Selain wajib memenuhi standar mutu dan regulasi di tiap negara, pemahaman terhadap karakter konsumen global menjadi syarat utama. Harapannya, produk herbal Indonesia juga diakui di dunia internasional. Bagi Sido Muncul, tradisi dan inovasi adalah dua hal yang saling melengkapi. Tradisi merupakan fondasi, sedangkan inovasi adalah cara mengembangkan dan menjaga relevansinya sesuai dengan kemajuan zaman.


“Brand harus tetap relevan dengan perkembangan zaman. Inovasi harus tetap dilakukan tanpa mengubah kekuatan atau DNA brand yang sudah ada.”


Hal itu dibuktikan melalui produk Jamu Komplit dengan merilis tiga varian formula baru. Formula tersebut disesuaikan dengan selera ge-nerasi muda tanpa menghilangkan tradisi menyeduh dan mencampur sendiri jamu beserta kondimennya. Jadi, meski gencar berinovasi, tradisi jamu lokal tetap dijaga.

Sebagai persembahan khusus ulang tahun ke-75, Sido Muncul meluncurkan platform digital Sido Herbalpedia yang dilengkapi dengan SiHerbie, asisten herbal berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI). Maria menyebutkan bahwa platform tersebut hadir untuk mendokumentasikan pengetahuan herbal yang selama ini dominan diwariskan secara lisan.

Edukasi disajikan secara bertanggung jawab, lengkap dengan fakta medis dan bukti ilmiah agar masyarakat makin mengapresiasi kekayaan alam Nusantara.

“Harapan kami, Sido Herbalpedia dapat membantu masyarakat mengenal kekayaan herbal Indonesia, sekaligus menumbuhkan apresiasi terhadap kekayaan alam yang kita miliki,” katanya.

Prospek Cerah

Dari sisi industri nasional, Sido Muncul terus berkomitmen menyerap bahan baku lokal, bermitra dengan petani, serta mengembangkan bibit tanaman herbal unggul. Langkah itu diharapkan mampu mengangkat derajat industri jamu Indonesia agar makin kompetitif dan bereputasi global.

Menatap masa depan, prioritas utama perusahaan adalah memperkuat bisnis inti, mempertahankan merek utama, dan memperluas jangkauan pasar. Strategi promosi tidak dapat menggantikan kualitas produk. Sebuah bisnis yang baik tidak hanya dilihat dari kecepatan pertumbuhan, tetapi juga dari kemampuannya bertahan dan terus berkembang dalam jangka panjang.

Maria melihat bahwa kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia serta tingginya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan membuat prospek industri herbal sangat cerah. Namun, untuk mengoptimalkan potensi tersebut, diperlukan sinergi yang kuat antara pemerintah, akademisi, dan pelaku industri.

Pemerintah diharapkan mengeluarkan kebijakan yang mendukung pengembangan industri serta memberikan kemudahan bagi produk yang memenuhi standar agar mampu bersaing de-ngan produk luar negeri. Perguruan tinggi dan lembaga penelitian berperan mengembangkan teknologi dan riset ilmiah agar produk herbal Indonesia memiliki dasar yang kokoh.

“Sementara pelaku industri bertanggung jawab mengembangkan produk yang aman dan berkualitas untuk membangun kepercayaan konsumen,” ucap Maria.

Eko Edi Nuryanto/SSA