K.H Muhammad Adnan

Jawa Tengah kehilangan salah seorang tokoh Nahdlatul Ulama (NU), akademisi, dan penggerak dialog kebangsaan. Dr. K.H. Muhammad Adnan, M.A., mantan Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah dua periode, wafat pada Rabu malam, 7 Oktober 2026.

Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar NU, sivitas akademika Universitas Diponegoro (Undip), para santri, serta kolega dari berbagai organisasi keagamaan. Pada Kamis, 8 Oktober 2026, jenazahnya disemayamkan dan kemudian dimakamkan di kompleks Pondok Pesantren Kebangsaan, Kramas, Tembalang, Kota Semarang, yang didirikan dan selama ini diasuhnya.

Ikut mengantarkan dalam pemakaman Kiai Adnan, Rektor Undip Prof. Dr. Suharnomo, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Undip Dr. Teguh Yuwono, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah Prof. Dr. Nur Achmad, Rais PCNU Kota Semarang K.H. Hanief Ismail, Sekretaris PWNU Jawa Tengah K.H. Arja’ Imroni, dan sejumlah kiai dan ulama lain.

Visi Kebangsaan

Rais Syuriyah PCNU Kota Semarang K.H. Hanief Ismail mengenang Kiai Adnan sebagai tokoh NU yang menggerakkan dan mengawal kader-kader muda NU agar berkembang di berbagai bidang. Adnan juga dikenal memiliki visi kebangsaan yang kuat. Gagasan itu antara lain diwujudkan melalui pendirian Pondok Pesantren Kebangsaan di Tembalang, Semarang, yang mempertemukan pendidikan agama, pendidikan tinggi, dan semangat nasionalisme.

Hal yang sama dikemukakan Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah K.H. Ubaidillah. Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah Dr. K.H. Tafsir, M.Ag. juga menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Kiai Adnan.

Atas nama PWM Jawa Tengah, ia menyatakan turut berdukacita yang sedalam-dalamnya. Kehilangan Kiai Adnan juga dirasakan Bambang Sadono, yang pernah berpasangan dengannya dalam Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Tengah 2008.

Bambang juga mengenang pengalaman mereka ketika berkeliling ke berbagai kabupaten dan kota dalam Pilkada Jawa Tengah 2008. Keduanya keluar masuk kampung untuk menemui masyarakat. Dari perjalanan tersebut, Bambang mengingat Kiai Adnan sebagai sosok yang sederhana, tekun, sabar, dan rendah hati.

Tetap Mengajar

Aktivitas K.H. Muhammad Adnan selama setahun terakhir memperlihatkan bahwa pengabdiannya di dunia akademik dan keagamaan masih berlangsung. Pada 28 Agustus 2025, ia menyerahkan empat buku karyanya kepada Perpustakaan FISIP Undip.

Ia berharap karya-karya tersebut dapat membantu mahasiswa memahami persoalan politik dan menjadi bahan rujukan dalam proses belajar.

Pada 22 Mei 2026, Adnan kembali hadir dalam kegiatan akademik melalui bedah buku Shortcut Teori-Teori Pilihan dalam Ilmu Politik di FISIP Undip. Dalam forum itu, ia menjelaskan upayanya menyajikan teori-teori politik secara ringkas dan sistematis agar lebih mudah dipahami mahasiswa. Di luar organisasi keagamaan, Kiai Adnan mengabdikan diri sebagai dosen Undip, terlibat dalam kontestasi politik daerah, dan memimpin Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Jawa Tengah.

Perjalanan tersebut mempertemukan tiga lingkungan pengabdiannya: organisasi keagamaan, pendidikan tinggi, dan kehidupan kebangsaan. Latar belakang pendidikan pesantren dan ilmu politik turut membentuk jalan yang ditempuhnya. Ia belajar di Pesantren Darun Nasiin, Malang, Jawa Timur, sebelum melanjutkan pendidikan tinggi di Undip. Ia kemudian menempuh pendidikan Magister Perbandingan Politik di Hiroshima University, Jepang, dan pendidikan doktoral di Undip.

Pimpin PWNU Jateng

Keterlibatan Adnan dalam organisasi NU dimulai sejak muda melalui Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). Ia pernah menjadi Wakil Ketua IPNU Jawa Tengah. Ketika memasuki dunia kemahasiswaan, ia aktif dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan pernah menjabat Koordinator Cabang PMII Jawa Tengah.

Pengalaman di IPNU dan PMII menjadi bagian dari proses kaderisasi yang mengantarkannya ke kepemimpinan organisasi. Melalui organisasi pelajar dan mahasiswa, ia berinteraksi dengan kehidupan keagamaan, pendidikan, serta persoalan sosial yang dihadapi generasi muda.

Ia kemudian dipercaya menjadi Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah untuk periode 2003–2008 dan kembali memimpin pada 2008–2013.

Selama satu dekade, ia berada di posisi yang mengharuskannya menjalankan roda organisasi NU di tingkat provinsi. Setelah menyelesaikan dua periode kepemimpinannya, Adnan tetap berkiprah dalam struktur NU. Ia pernah menjabat Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah.

Adnan mengabdikan diri sebagai dosen FISIP Undip sejak 1987. Di luar kegiatan mengajar, ia menulis sejumlah buku yang membahas politik, terorisme, dan kekerasan berbasis agama. Pada Agustus 2025, ia menyerahkan empat buku karyanya kepada Perpustakaan FISIP Undip. Buku – buku tersebut adalah Konsepsi tentang Terorisme, Kekerasan Berbasis Agama: Peta Konflik Agama di Indonesia, Radikalisme dan Terorisme: Sketsa Kelompok-Kelompok Garis Keras di Dunia, serta Shortcut Paham Politik: Sekumpulan Konsep Pilihan dalam Politik.

Muhammad Ali