
Salah satu buku suntingan saya, yang berkesan sampai saat ini, adalah HM Ismail Menggali Emas Jawa Tengah. Buku ini terbit tahun 1993, merupakan kerja sama Penerbit Citra Almamater dengan Humas Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, yang saat itu dipimpin oleh Drs. Suparman.
Secara fisik bukunya gagah, dicetak di kertas lux dengan sampul tebal (hard cover). Sebagai buku kenangan selain mewawancarai para tokoh, pejabat, bahkan lengkap dengan komentar dari 35 bupati dan walikota se-Jawa Tengah. Dari segi produksi cukup lancar karena kerja sama dengan pemerintah daerah, menyebabkan komunikasi dengan para narasumber sangat dimudahkan.
Dari segi manajemen cukup rapi. Dana penerbitan diperoleh dari pemasangan iklan dan pembelian buku, yang ditampung dalam rekening bersama antara PT Citra Almamater dan Humas Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Setelah dikurangi ongkos produksi, sisa lebih dibagi. Lumayan, kalau tidak salah, dari hasil penerbitan ini, penerbit bisa membeli kantor di Ngaglik Lama, Semarang.
Penerbitan buku ini salah satu yang menginspirasi kami terus bergerak dalam bidang penerbitan buku, dan media lain, sampai sekarang. Karena nama PT harus terdiri dari minimal tiga suku kata, sampai saat ini PT Citra Almamater menjadi PT Citra Almamater Baru. Setelah pensiun dari media arus utama, dan kegiatan politik di lembaga legislatif, saya diminta kembali memimpin perusahaan ini.
Karya Besar
Buku ini termasuk karya besar, bukan dalam arti kualitas, setidaknya secara kuantitas. Lebih dari 450 halaman kertas ukuran kuarto. Dari penyunting, ada tiga penulis. Ada catatan dari lima tokoh, antara lain dari Prof. Eko Budihardjo, Darmanto Jatman, dan Budi Santoso. Ada 17 orang dekat yang diwawancara dengan komentar yang bersifat human interest. Ada 17 wawancara dengan orang dekat, keluarga, dan para staf yang sehari-hari mendampingi Pak Ismail.
Lima tokoh yang mengomentari perjalanan sang tokoh saja aktif di perjuangan dan karier militer, sampai setelah sepuluh tahun menjabat gubernur. Berbagai kinerja Lurah (begitu Ismail sering menyebut dirinya) Jawa Tengah ini dikomentari oleh tujuh pengamat. Konsep kepemimpinannya yang Njawani dibahas delapan orang tokoh. Komentar 35 bupati/walikota se-Jawa Tengah dipimpin dalam sub-bab “Tiada Hari Tanpa Prestasi”, dalam 72 judul tulisan. Masih ada komentar dari berbagai kalangan 23 tulisan dan catatan akhir dari berbagai profesi 5 tulisan, termasuk dari Jaya Suprana.

Gubernur Jateng H.M. Ismail menyerahkan kunci kantor baru PWI Cabang Jateng
kepada Bambang Sadono selaku Ketua PWI Cabang Jawa Tengah pada 1993.
Bekerja dengan Konsep
Ada hal penting yang kami tangkap saat menyusun buku ini, belajar dari cara berpikir dan cara bekerja H.M. Ismail. Pertama, ia bekerja dengan konsep, lahirlah Wawasan Identitas atau Jatidiri Jawa Tengah. Merupakan pemahaman strategi tentang potensi, kekuatan, masalah, dan tantangan provinsi ini. Itu juga yang kemudian melahirkan gaya kepemimpinan yang mungkin berbeda dengan model provinsi lain.
Misalnya, ada ungkapan “ngono ya ngono, ning aja ngono”, artinya bisa bebas, tapi jangan keterlaluan. Kedua, ada target, dengan bahasa komunikasi yang lebih mudah. Misalnya ingin menggali emas hijau, untuk melukiskan potensi di bidang pertanian. Emas untuk simbol kegiatan pariwisata. Maka, buku ini memilih judul HM Ismail Menggali Emas Jawa Tengah.
Pada masa jabatan Ismail-lah dimulai Kongres Bahasa Jawa yang pertama. Dibuka oleh Presiden Soeharto dengan pidato tanpa teks lebih dari satu jam. Mengupas filsafat Hanacaraka. Ismail lahir di Maos, Cilacap, 31 Desember 1927, mungkin termasuk gubernur yang banyak dikenang karena gaya komunikasinya, tegas, jelas, kadang jenaka, dengan ungkapan khas yang mudah diingat.
Begitu dekatnya dengan pers, perguruan tinggi, dan mahasiswa, pernah bekerja sama dengan Koran Kampus Manunggal yang dipimpin Darmanto Jatman, mengadakan lomba menulis bertema Wawasan Identitas. Peninggalan Ismail, antara lain, Pusat Rekreasi dan Promosi Pembangunan (PRPP) Jawa Tengah serta Jawa Tengah Mini Taman Maerokoco.
Ketika saya terpilih sebagai Ketua Cabang Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Tengah, bertepatan dengan pembongkaran Gedung Olahraga (GOR) Jawa Tengah di kompleks Simpang Lima Semarang, yang kemudian dijadikan hotel dan mal. Semula di GOR tersebut ada Balai Wartawan yang sekaligus menjadi kantor PWI.
Gubernur Ismail menggantikannya dengan sebuah ruko di kompleks Puri Anjasmoro Semarang berdekatan dengan kompleks PRPP. Beberapa kali menghadiri kegiatan PWI, termasuk ketika ada kegiatan yang diselenggarakan di Kota Magelang. Saat akan mengakhiri masa jabatannya, dalam suatu acara ia menyelipkan sebuah kenang-kenangan untuk saya, sebuah jam tangan yang dipakainya.
Letjen (Purn) H. Muhammad Ismail meninggal Sabtu, 23 Februari 2008. Seorang jenderal, yang luwes dalam bergaul dengan siapa saja.